Sebuah intuisi
bernyanyi,
Mendulang lirik indah
di kawah sang peubah yang masih merah
Sudah membarakah
kawan?
Lirik ini terpampang
saat melepas kau di balik perang
Ini dan kini, nanti
Ketika pendahulu
menyambut tongkat estafet prajurit abu abu yang yang telanjang
Meraihmu kini yang
terselimut zirah biru seorang ksatria baru
Kau masih putih dahulu
Namun kini pedangmu
terus mengukir batu
Ini dan kini, Nanti
Menggali kertas kertas
putih yang kan ditanami benih
Biarkan merambat di
hati hati calon raja yang hebat
Cukup sudah kau
terikat, kawan.
Kini terbanglah kau
membarakan kebenaran
Kepakan zirah biru
menjadi sayap peubah masa depan
ini dan kini, nanti
Ku takkan menggenggamu
lagi sayang,
Biarkan pedangmu
menari diatas masa depan
Eratkan zirah birumu ,
menarilah dalam lirik indahmu
Ini dan kini nanti
Sebuah intuisi menari,
Mendulang lirik indah
di kawah sang peubah yang masih merah
Terus membara kawan!
Lirik ini terpampang
saat kau melangakah tegap dibalik perang
Ini dan kini , nanti
Lalu samsul ahmadi
(1 oktober 2012)
(spesial untuk maba FMIPA 2012)
(spesial untuk maba FMIPA 2012)

No comments:
Post a Comment